Pengajian Bulanan KBRI-Riyadh 30 Mei 2008

Materi pengajian bulanan KBRI-Riyadh, yang dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman, Dr. Salim Segaf Al-Jufrie, para home dan local staf KBRI, serta masyakarat Indonesia yang berada di kota Riyadh.

Batas Akhir Sebuah Kehidupan

(Tanda-Tanda Husnul Khatimah)

oleh: Fir’adi Nasruddin Abu Ja’far, Lc

 

Setiap manusia yang meretasi perjalanan hidup di dunia ini, pastilah suatu saat akan sampai pada batas akhir kehidupannya. Ajal pasti datang menghampirinya. Kematian ibarat tamu yang tidak pernah diundang. Ia datang tanpa mengenal waktu, keadaan, kedudukan, profesi dan usia. Terkadang ia datang di waktu malam, pagi, siang dan sore hari. Dan terkadang ia mengetuk pintu seseorang saat popularitasnya berada di puncak. Ia juga bisa menyapa seseorang di kala sehat, sakit, bahagia dan merana.

Ajal merupakan persoalan ghaib bagi manusia. Terkadang seseorang yang begitu disanjung dan dipuja-puja serta digadang-gadang oleh manusia, ternyata akhir kehidupannya sangatlah tragis dan menyayat hati. Dan tidak sedikit orang secara kasat mata hidupnya sarat dengan kesederhanaan, tapi penghujung hidupnya sangatlah indah dan manis.

Akhir sebuah kehidupan merupakan penentu masa depan kita di akherat kelak. Husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik) adalah harapan dan cita-cita semua orang. Tetapi ia hanya merupakan khayalan dan impian belaka bila kita tidak pernah mengukir amal-amal keta’atan dalam hidup. Tidak membekali diri kita dengan iman dan ketakwaan. Atau sandaran pada Sang Maha Pencipta teramat ringkih. Lemah dalam kepribadian dan tidak memiliki citra yang baik di tengah-tengah masyarakatnya.

Bila kita telusuri perjalanan hidup generasi pendahulu kita (salafus shalih), kita temukan bahwa hati mereka senantiasa dihiasi kemurnian tauhid, keta’atan yang sempurna terhadap Rasulnya, dan ukiran amal-amal shalih mereka yang amat mengagumkan dan mempesona. Tetapi yang demikian itu tidak menjadikan mereka bangga diri, apatah lagi takabur dengan apa yang telah mereka perbuat. Bahkan hati mereka selalu dihantui perasaan takut yang tak terperi dan kekhawatiran yang mencekam, jika mereka tidak mampu menghadap Allah ’Azza wa Jalla dalam keadaan husnul khatimah.

Sufyan Atsaury rahimahullah (ulama terkemuka dari kalangan tabi’in), di kala mengenang pedihnya siksa neraka, menyebabkan ia pernah terkencing darah dan nanah. Ia seseorang yang zuhud terhadap dunia. Ketika ia berada di ambang kematian, ia meneteskan air mata menangis tersedu-sedu. Terbata-bata suaranya, dari lisannya terucap, “Aku khawatir di saat yang sangat menentukan masa depanku di akherat seperti ini, Allah ’Azza wa Jalla mencabut keimanan dari hatiku.“

Begitu pula Malik bin Dinar rahimahullah ketika melaksanakan shalat malam tak sanggup membendung air matanya hingga membasahi jenggotnya yang lebat seraya berucap. “Duhai Rabb-ku, Engkau telah menetapkan para penghuni surga dan neraka, maka dimanakah tempat tinggalku di akherat kelak?

Itulah perenungan yang sangat dalam dari para salafus shalih kita terhadap wasiat Allah ’Azza wa Jalla:

<!–[if gte vml 1]&gt; &lt;![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran : 102)

 

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah ditanya oleh Syahr bin Husyab mengenai doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika beliau berada di sisinya? Ia menjawab, “Doa yang paling sering dibaca oleh beliau adalah:

Wahai Dzat yang membolak-balikan hati (manusia), tetapkanlah hatiku di atas jalan agama-Mu.”(HR. Tirmidzi).

 

Kita adalah insan yang lemah, sering lalai dan khilaf. Tanpa kita sadari maksiat masih sering kita lakukan. Kaki kita tidak jarang terjerembab di Lumpur dosa dan kubang kesalahan. Masih pantaskah kita mendambakan husnul khatimah? Sementara perilaku kita berseberangan dengan jalan yang telah dilalui oleh mereka yang telah meraih husnul khatimah. Dikatakan dalam sebuah syair, “Engkau mengharap sebuah kesuksesan namun tak kau tapaki jalan-jalan menuju kesuksesan itu. Sesungguhnya bahtera itu tak pernah berlayar di atas padang sahara nan tandus.”

Husnul khatimah adalah suatu keadaan dimana seseorang hamba meninggal dunia, diberikan taufik dapat terhindar dari murka Allah ‘Azza wa Jalla, bertaubat dari dosa dan maksiat, atau ia sedang mengukit amal-amal keta’atan dan berbuat kebaikan.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu anhu ia berkata, pernah bersabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Apabila Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-Nya maka Dia mempekerjakannya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah mempekerjakannya?”. Beliau menjawab, “Dia memberikan taufik baginya untuk beramal shalih sebelum meninggal”. (HR. Ahmad, Tirmidzi & Hakim)

Adapun tanda-tanda orang yang meraih husnul khatimah cukup beragam. Diantaranya sebagai berikut:

  1. mengucapkan Laa Ilaha Illallah sebelum meninggal dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, “Siapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia) adalah Laa Ilaha Illallah, maka dia masuk surga.” (HR. Hakim)
  2. Sebelum meninggal, keluar peluh (keringat) dari dahi atau keningnya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Matinya seseorang mukmin itu dengan keluarnya keringat dari dahi atau keningnya“. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  3. Meninggal pada malam atau hari Jum’at. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau pada malam harinya, melainkan Allah akan memeliharanya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
  4. Orang yang gugur di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian pula orang yang mati karena terkena wabah tha’un (pes, sampar), penyakit perut dan yang mati tenggelam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Orang yang terbunuh di jalan Allah adalah syahid, orang yang mati karena wabah pes adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid dan orang yang mati tenggelam adalah syahid.” (HR. Muslim)
  5. Orang yang meninggal tertimpa reruntuhan gedung. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Orang-orang yang mati syahid ada lima; terkena wabah pes, sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan gedung dan orang yang gugur di jalan Allah ‘Azza wa Jallan.” (HR. Bukhari & Muslim)
  6. Orang yang mati karena mempertahankan hartanya, kehormatan keluarga, agama dan mempertahankan nyawanya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya adalah syahid. Siapa yang terbunuh dalam rangka menjaga kehormatan keluarganya adalah syahid. Siapa yang terbunuh lantaran mempertahankan kemuliaan agamanya adalah syahid. Dan siapa yang terbunuh karena membela nyawanya adalah syahid.” (HR. Abu Daud & Nasa’i)
  7. seorang wanita yang meninggal dunia sewaktu melahirkan atau nifas. Sebagaimana tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad.
  8. Orang yang mati ketika sedang menjalankan tugas menjaga perbatasan suatu negeri. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Menjaga keamanan suatu negeri sehari semalam, maka hal itu lebih baik daripada puasa dan shalat malam sebulan penuh.” (HR. Muslim)
  9. Orang yang mati ketika sedang melaksanakan amal shalih. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dalam rangka mengharap ridha Allah, dan ia menutup usia dengan kalimat itu, maka ia masuk surga. Barangsiapa yang berpuasa sehari dalam rangka mengharap ridha Allah, dan ia menutup usia dengan puasanya itu, maka ia masuk surga. Barangsiapa yang bersedekah dengan sesuatu dalam rangka mengharap ridha Allah, dan ia menutup usia dengan sedekahnya itu, maka ia masuk surga.“ (HR. Ahmad)
  10. Dan lain-lain

Dan yang perlu ditegaskan disini adalah bahwa orang yang meninggal dunia dengan salah satu tanda diatas, bukan berarti kita bisa mengklaim bahwa dia pasti masuk surga. Tetapi mudah-mudahan hal tersebut merupakan kabar gembira yang disegerakan selama ia beriman dan bertakwa.

Akhirnya dengan tulus ikhlas kita sandarkan harapan kita kepada Allah ’Azza wa Jalla, agar Dia jadikan amalan kita yang terbaik adalah amalan yang terukir ketika malaikatul maut datang menjemput ajal kita, dan usia yang paling bermanfaat adalah di penghujungnya dan hari yang terindah adalah hari ketika kita menghadap-Nya. Amien.

 

NB: pengajian kali ini sungguh istimewa, karena disertai dengan aqiqah bapak Bambang; 1 putra dan 1 putri. Ya, silahkan dihitung sendiri ada berapa ekor kambing🙂 jazakallah khair pa Bambang., semoga anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah!

Leave a comment

Filed under Dakwah, KSU-Riyadh-Arab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s